Ketahanan Pangan menjadi basic program unggulan DPD BRINUS Kab. Cilacap dengan cara menanam Talas Bogor, Padi, Jagung dan Palawija

Semarang, 14 Desember 2025.

Dewan Pimpinan Daerah Brigade Nusantara Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, lebih dikenal dengan BRINUS CILACAP, dikukuhkan pada tanggal 27 Juli 2025 di ketuai oleh H. Ibrahim, S.H. Didampingi oleh sekretaris Iswati dan bendahara Yuni Lestari, Ibrahim sangat tanggap akan kondisi situasi Negara Indonesia yang sedang berupaya swasembada pangan, khususnya wilayah Kabupaten Cilacap. DPD BRINUS Cilacap sedang menjalankan program ketahanan pangan berupa tanaman Talas, Padi, Jagung dan Palawija.

Terbentuknya KUB BRINUS

Dalam rangka mendukung program pemerintah dalam menciptakan ketahanan pangan, maka tercetus untuk memanfaatkan banyaknya lahan nganggur tidak produktif, maka pengurus DPD BRINUS berinisiatif membentuk Kelompok Usaha Bersama, dengan alasan untuk menopang kebutuhan dana operasional organisasi, sekaligus berperan serta dalam program ketahanan pangan.

Inisiatif tersebut didukung oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Endri Hendra Permana dan ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Dr. Ir. Bambang Wuragil, M.M, M. Si.

Setelah terbentuk pengurus KUB dengan susunan sebagai berikut:

Ketua Mukharis

Sekretaris Darsono

Bendahara Siti Maryani

dalam waktu singkat melakukan gebrakan yang luar biasa, bahwa unit bisnis tersebut langsung bekerja sesuai dengan tugas yang diamanatkan yaitu mencari lahan yang tidak produktif untuk dimanfaatkan menjadi lahan produktif yaitu sebagai tanaman pangan.

Bukan tanpa alasan tanaman pangan menjadi prioritas, karena sesuai dengan program yang dicanangkan pemerintah di bidang ketahan pangan, sebagaimana program ketahanan pangan pemerintah Presiden Prabowo.

Maka segenap pengurus bergerak mencari lahan. Setelah mendapatkan lahan yang diinginkan, langsung melakukan pembicaraan kerjasama dengan pemilik lahan H. Faisal.

Dalam pembicaraan ternyata disepakati:

Pemilik lahan setuju lahan dikelola oleh KUB BRINUS dengan sistem bagi hasil.

Pengurus yang Gesit

Pengamatan yang jeli segenap pengurus atas program tanaman pangan pemerintah, dengan melihat banyaknya tanah/lahan pertanian yang dibiarkan tidak produktif, pengurus segera melakukan pembicaraan kerjasama dengan pemilik lahan.

Semuanya itu berawal dari inisiasi Darimun salah satu pengurus dan sebagai tokoh masyarakat Cilacap mampu meyakinkan segenap pengurus untuk melakukan negosiasi terhadap pemilik lahan H. Faisal, yang lahannya dibiarkan terlantar, di jalan Lengkong, Jeruklegi Kulon, yang pada akhirnya bersepakat untuk digarap oleh KUB BRINUS dengan sistem bagi hasil 30 : 70.

Tentu keberanian tersebut bukan tanpa perhitungan, 1 batang bibit Talas Pratama 2 membutuhkan modal total 4 ribu rupiah, saat panen dalam jangka waktu 8 bulan bisa mencapai harga 10 – 12 ribu rupiah.

Apalagi biaya perawatan bisa dibiayai dari hasil tanaman tumpang sari (jangka pendek) seperti Cabai, Terong, Daun Singkong, Jagung dll, Darimun berujar optimis akan berhasil katanya.

Tanaman Pangan berkembang

Tanaman awal yang menjadi unggulan adalah Talas Bogor dengan alasan cepat menghasilkan dan bibitnya relatif murah. Tanaman awal sebanyak 2 ribu bibit dilahan seluas ± 2 ha. Kemudian tanaman padi seluas ¼ ha. Disela-sela tanaman Talas ditanami palawija (tumpang sari) berupa Jagung, Cabai, Terong, Ketela Pohong daunnya dimanfaatkan untuk Rumah Makan Padang dan ternyata tanaman tumpang sari tersebut dapat membantu sebagai biaya operasional lapangan.

Permodalan

Dalam pengumpulan modal cukup mudah, karena semua anggota mendukung, pun dalam menentukan besaran saham, relatif terjangkau oleh anggota dan termasuk ketua DPW Jawa Tengah Bambang Wuragil, mensupport atas inisiatif tersebut terbukti ikut andil dalam kepemilikan saham.

Modal awal diperoleh dari 43 anggota, dengan persaham sebesar Rp 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah), bahkan ada yang ambil 2 dan 4 saham. Maka terkumpul sebesar Rp 13.250.000 (tiga belas juta dua ratus lima puluh ribu rupiah), digunakan untuk mengolah tanah dan membeli bibit Talas Bogor, kata Ketua KUB BRINUS Mukharis.

Hama Tanaman

Hama tanaman Talas relatif mudah diatasi/dibasmi dengan disemprot menggunakan bahan alami/organik telah bisa dikendalikan, berupa ulat dan serangga.

Juga dibantu oleh dinas pertanian setempat berupa peralatan pertanian khususnya semprotan yang multifungsi, disaat tidak ada hujan untuk menyirami dan juga untuk menyemprot hama.

Setelah penanaman Talas Bogor (Pratama2), kemudian pengembangan berupa penanaman Padi seluas ¼ ha, dengan pertumbuhan yang sangat memuaskan, hama satu-satunya yang sangat mengganggu adalah Burung Pipit/Emprit, untuk menangulanginya akan dipasang jaring.

Pengurus KUB Brinus yang Luar Biasa

Kerja keras tanpa kenal lelah, hujan, panas tidak menjadi halangan mereka terus bekerja untuk mewujudkan impian dimana KUB BRINUS meningkatkan kesejahteraan anggota dan dapat berperan serta dalam program ketahanan pangan nasional pada umumnya dan khusus untuk diwayah Kabupaten Cilacap.

Pengurus Kelompok Usaha Bersama program tanaman pangan tersebut bersepakat membuat jadwal merawat tanaman tiap minggu secara bergilir.

Ditentukan pembagian tugas diantaranya, yang menyiangi rumput, semprot hama, mengambil anakan Talas untuk ditanam, yang tidak kalah penting adalah ibu-ibu juga kebagian tugas memetik Cabai, Terong, Daun Pohong sekaligus menjualnya.

Kesadaran yang tumbuh begitu luar biasa, sifat bergotong-royong ternyata beban yang terbayang berat menjadi ringan.

Pemeliharaan secara rutin setiap minggu dengan pembagian tugas yang jelas, sehingga tidak saling tergantung, sudah menjadi sistem yang otomatis berjalan sesuai jadwal yang ditentukan, pengurus KUB BRINUS memang luar biasa, pungkas Darsono.

 

(Budi_semawis)

Bagikan: